Rabu, 10 November 2010

perkebunan kelapa sawit di era 16

Agribisnis Kelapa Sawit di Indonesia

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/e1g008010/agribisnis-kelapa-sawit-di-indonesia_550b0ad9813311df78b1e44a
Agribisnis Kelapa Sawit di Indonesia

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/e1g008010/agribisnis-kelapa-sawit-di-indonesia_550b0ad9813311df78b1e44a
Agribisnis Kelapa Sawit di Indonesia

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/e1g008010/agribisnis-kelapa-sawit-di-indonesia_550b0ad9813311df78b1e44a
Agribisnis Kelapa Sawit di Indonesia 
Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan yang dewasa ini sangat diminati untuk dikelola atau ditanam, baik oleh pihak BUMN, perkebunan swasta nasional dan asing, maupun petani (perkebunan rakyat). Daya tarik penanaman kelapa sawit masih merupakan andalan sumber minyak nabati dan bahan agroindustri. Sebelumnya, sumber minyak nabati di Indonesia adalah minyak goring. Saat ini, produksi CPO (Crude Palm Oil) Indonesia sekitar 17 juta ton per tahun. Dengan produksi ini, Indonesia adalah produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, berhasil menggeser kedudukan Malaysia yang produksinya mencapai 16 juta ton CPO per tahun, meskipun ada juga kebun-kebun kelapa sawit yang merupakan investasi perusahaan swasta Malaysia di Indonesia.
Bisnis kelapa sawit membutuhkan biaya yang cukup besar dan keahlian dalam mengelolanya. Oleh karenanya, bagi yang ingin terjun ke bisnis kelapa sawit harus bertekad kuat dan memantapkan diri, membekali diri dengan ilmu bercocok tanam yang tepat dan ilmu manajemen yang andal, modal yang cukup memadai, serta lahan yang memadai. Dengan demikian, memulai bisnis kelapa sawit bukan dilandasi oleh alas an ikut-ikutan, latah, atau coba-coba karena akibatnya akan fatal. Sebagai contoh, ada pengusaha yang mulai berbisnis kelapa sawit dengan menananm areal yang cukup luas. Setelah melalui kurun waktu yang cukup lama, tiba saatnya kelapa sawit tersebut mulai berbuah. Namun sayangnya, banyak pohon kelapa sawitnya yang tidak berbuah optimal. Setelah diselidiki, ternyata hal ini disebabkan oleh kesalahan di awal, yaitu menggunakan benih sapuan, benih asal-asalan, atau benih “aspal” (asli tapi palsu). Padahal, benih kelapa sawit yang benar dan tersertifikasi adalah benih yang berasal dari sumber benih yang resmi, terdaftar, jelas, dan bertanggung jawab. Penyebab lain yaitu perkebunan yang tidak dilengkapi dengan pabrik kelapa sawit (PKS) atau sebaliknya. Akibatnya, pada saat panen harus mencari pabrik yang bersedia untuk menampung atau membeli buah sawit tersebut untuk selanjutnya diolah menjadi CPO. Jarak antar kebun dan pabrik yang jauh menyebabkan bertambahnya biaya ongkos kirim dan rendemen yang rendah.

Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan yang dewasa ini sangat diminati untuk dikelola atau ditanam, baik oleh pihak BUMN, perkebunan swasta nasional dan asing, maupun petani (perkebunan rakyat). Daya tarik penanaman kelapa sawit masih merupakan andalan sumber minyak nabati dan bahan agroindustri. Sebelumnya, sumber minyak nabati di Indonesia adalah minyak goring. Saat ini, produksi CPO (Crude Palm Oil) Indonesia sekitar 17 juta ton per tahun. Dengan produksi ini, Indonesia adalah produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, berhasil menggeser kedudukan Malaysia yang produksinya mencapai 16 juta ton CPO per tahun, meskipun ada juga kebun-kebun kelapa sawit yang merupakan investasi perusahaan swasta Malaysia di Indonesia.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar